maaf..
maafkan aku, dit.. karena tidak bisa menjelaskan kepadamu dengan gamblang kenapa aku memilih jogjakarta. oh ya.. bahkan aku tidak memilih, dit. aku dipanggil kesana. siapa yang memanggil? tidak tahu.. aku tidak tahu apa2.. yang aku tahu, di sanalah tujuanku..
kenapa bukan kota yang lebih besar? kenapa bukan kota2 industri? kenapa jogja?
maafkan aku, dit.. aku tidak tahu.
juga meskipun kamu telah membantu menebak2an alasan2 yang bauanyak sekali itu. ah, mungkin karena seni nya. mungkin orang2nya. mungkin aku pernah punya kenangan di sana. mungkin aku ingin balas dendam. dan lain2. dan lain..
alsanmu masuk akal. tapi aku tidak bisa mengangguk setuju. alsan2 itu tidak bisa membuatku benar2 yakin itulah jawabannya. aku tidak tahu, dit.. maafkan aku.
aku juga tahu, sekedar keyakinan akan membunuhmu. makanya aku di sini saat ini, dit.. aku belajar. aku belajar.. okelah.. kita sama2 gembel.. sama2 tahu kan gimana jalannya.. tak perlulah kamu mengisdi otak ku dengan wejangan2 a be ce de.. kita berdua sama2 orang jalan. sama2 tahu. aku juga tahu.. makanya aku berjuang, dit..
jangan membunuhku, teman.. jangan pernah membunuhku. aku masih hidup sampai saat ini. itu berarti Gusti masih memerintahkan aku untuk berjuang. lagipula aku belum mati. aku masih terus hidup.
kontrakku di dunia berakhir, saat aku tidak lagi memiliki mimpi.
aku tidak pernah membunuh mimpimu, dit..
jangan pernah menikam aku.

0 komentar:
Poskan Komentar